Ketika kita membaca permulaan surat Paulus kepada Jemaat di Kolose, seringkali kita melewatinya begitu saja tanpa berpikir lebih dalam, apa yang bisa kita pelajari dari bagian ini? Kita tahu bahwa 2 ayat pertama dari Kolose pasal 1 ini merupakan sebuah greetings (salam) dari Paulus kepada Jemaat di Kolose, tetapi hal ini merupakan suatu hal yang asing buat kita. Di jaman serba modern ini, kita tidak lagi menulis surat dengan tangan, tetapi kita ‘menulis’ email. Dan di dalam email, kita hampir tidak pernah menulis greetings sama ketika kita menulis surat dengan tangan. Malah mungkin banyak dari kita yang tidak tahu bagaimana etika menulis surat formal. Karena itu, greetings di bagian awal surat ini merupakan sesuatu yang asing, dan dengan demikian sering dilewati begitu saja.
Namun bagi kita yang tahu etika surat menyurat, kita tahu bahwa ayat 1 dan 2 ini merupakan sebuah greetings, sama seperti yang dilakukan Paulus dalam surat-suratnya kepada Jemaat lain (Roma, Korintus, Galatia, dll). Tetapi setelah mengetahui bahwa 2 ayat ini adalah greetingsnya Paulus, kita pun melewatinya tanpa memikirkan lebih lanjut apa yang bisa kita pelajari dari greetings tersebut. Sebenarnya banyak sekali hal-hal yang bisa kita pelajari dari greetingsnya Paulus di bagian awal surat ini. Mari kita lihat sama-sama apa saja yang bisa kita pelajari.
Pertama-tama, Paulus memulai surat ini dengan kata-kata:
“Dari Paulus, rasul Kristus Yesus, oleh kehendak Allah, dan Timotius saudara kita” (Kolose 1:1)
Dari sini kita langsung tahu bahwa surat ini ditulis/dikirim oleh Paulus dan Timotius. Selain itu, kita juga tahu siapakah Paulus itu. Disini kita bisa melihat kalau Paulus menjelaskan bahwa dirinya adalah “rasul Kristus Yesus”. Namun, apa artinya bahwa dia adalah seorang rasul?
Kata rasul (Inggris: apostle) berasal dari kata Yunani “apostolos”, yang berarti “seseorang yang dikirim”. Murid-murid Yesus merupakan 12 rasul yang dikirim untuk bersaksi tentang Dia (Kisah para rasul 1:1-8). Selain mereka, Paulus juga dikirim oleh Yesus untuk memberitakan namaNya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu bangsa bukan Yahudi (Kis Rasul 9:1-16). Selain murid-murid Yesus dan Paulus, tidak ada lagi orang lain yang dikirim secara langsung oleh Yesus, dan yang diakui sebagai rasul. Jika Paulus adalah seorang rasul yang dikirim secara langsung oleh Yesus, apa pandangan kita terhadap Paulus? Apakah kita berpikir bahwa dia hanyalah seorang penulis surat-surat dalam Alkitab yang hidup 2000 tahun yang lalu, yang bisa kita abaikan kalau kita tidak setuju dengan apa yang ditulisnya? Atau apakah kita memandang Paulus sebagai rasul yang harus kita ikuti ajarannya?
Didalam Kolose 1:1, Paulus menambahkan bahwa dia adalah rasul Yesus Kristus, “oleh kehendak Allah”. Paulus menjadi rasul oleh kehendak Allah, karena kehendak Allah. Dia menjadi rasul bukan karena kemauan sendiri, bukan juga karena keinginan orang lain, tapi dia dipanggil menjadi rasul menurut kehendak Allah sendiri. Karena itu, sebagai rasul Paulus mempunyai tempat khusus dalam rencana Allah kepada manusia. Secara khusus, Paulus adalah rasul Yesus kepada orang-orang bukan Yahudi, yaitu kita semua yang adalah orang Indo. Dia merupakan rasul kita. Dia mempunyai otoritas langsung dari Allah, karena dia dipanggil menurut kehendak Allah sendiri. Dan ketika kita mendengar Paulus, secara tidak langsung kita mendengar apa yang Allah katakan. Sekali lagi, apa pandangan kita terhadap rasul Paulus? Apakah kita menerima apa yang ditulis Paulus sebagai firman Allah, bukan hanya sebagai perkataan manusia? (lihat juga 1 Tes 2:13)
Setelah melihat bahwa surat ini berasal dari Paulus dan Timotius, di ayat 2 kita bisa melihat bahwa surat ini ditujukan kepada “saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose”.
Tapi, apakah arti ‘kudus’? Dan, sebagai manusia berdosa, bagaimana kita bisa dibilang kudus?
Coba dipikirkan sendiri, apa jawaban dari pertanyaan diatas. Apa pendapat anda? Mungkin bisa saling berbagi juga (bisa ditulis di ‘comment’), supaya kita bisa saling belajar dari satu sama lain.
Bisa dilihat dari ayat 2 juga bahwa surat ini ditujukan kepada mereka yang telah “percaya dalam Kristus”. Mereka mempunyai identitas baru, yaitu “percaya dalam Kristus”. ‘Percaya’ merupakan sebuah kata yang sering kita ucapkan, tanpa kita sadari apa artinya. Apa maksudnya ketika kita mengatakan bahwa kita percaya kepada seseorang/sesuatu?
Ketika kita mempercayai seseorang/sesuatu, hal yang paling penting adalah objek dari kepercayaan kita itu. Ketika kita duduk, sadar atau tidak kita telah mempercayai kursi yang kita duduki, kita percaya bahwa kursi tersebut dapat menopang berat badan kita, dan tidak akan patah. Yang penting disini adalah kursi tersebut, apakah kursi tersebut dapat menopang kita atau tidak. Tetapi, kalau objek kepercayaan kita adalah sebuah kursi yang sudah rusak, percaya atau tidaknya kita tidak akan membantu kita untuk bisa terus duduk di kursi tersebut, kita akan tetap jatuh meskipun kita sungguh-sungguh percaya bahwa kursi tersebut dapat menopang kita. Yang membuat kita bisa tetap duduk adalah kursi tersebut, bukan kepercayaan kita. Tentu saja untuk bisa duduk di sebuah kursi, kita perlu untuk mempercayai kursi tersebut, karena kalau tidak, kita tidak akan duduk di kursi itu. Tapi yang paling penting adalah kursi tersebut, bukan kepercayaan kita. Sama seperti kalau kita percaya bahwa Yesuslah yang menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Yang membuat kita selamat adalah objek kepercayaan kita, yaitu Yesus Kristus, bukan kepercayaan kita kepada Dia. Kita selamat bukan karena kita percaya, tapi karena Dia telah menyelamatkan kita. Tentu saja untuk selamat kita perlu untuk percaya, tapi yang paling penting, yang membuat kita selamat, adalah Yesus, bukan kepercayaan kita.
Yang kedua, kalau kita benar-benar percaya, kita tidak akan mempunyai back-up plan, atau bersandar pada objek kepercayaan yang lain. Contohnya, kalau kita benar-benar percaya bahwa sebuah kursi dapat menopang kita ketika kita duduk, kita tidak akan duduk sambil memegang tongkat yang bisa menahan kita kalau kita jatuh. Ketika kita duduk, kita akan menaruh tongkat itu, karena kita percaya kepada kursi yang kita duduki. Kecuali kalau kita tidak benar-benar percaya kepada kursinya, maka sambil duduk pun kita akan terus memegang tongkatnya, sebagai back-up plan kalau kursinya tidak kuat dan ada kemungkinan kita akan jatuh. Sama seperti kepercayaan kita kepada Yesus, kalau kita benar-benar percaya bahwa Dia lah yang menyelamatkan kita, kita tidak akan bersandar pada hal-hal lain, atau bahkan pada diri kita sendiri, untuk keselamatan kita. Kita percaya bahwa Yesuslah yang menyelamatkan kita, dan kita tidak perlu untuk melakukan apa pun juga supaya bisa selamat. Kita tidak akan bersandar pada perbuatan baik kita, atau seberapa sering kita ke gereja atau membaca Alkitab, atau seberapa banyak persembahan kita. Kalau kita masih bersandar pada hal-hal lain untuk keselamatan kita, ibaratnya kita masih terus memegang tongkat sambil duduk, kita tidak benar-benar percaya kepada Yesus. Tentu saja kita terus berbuat baik, rajin ke gereja dan membaca Alkitab, tapi kita melakukan semua itu karena kita telah selamat, bukan supaya kita selamat.
Yang ketiga, Yakobus mengatakan bahwa setan pun percaya kalau hanya ada satu Allah saja (Yak 2:19). Tapi, meskipun setan percaya kalau Allah itu ada, setan memberontak terhadap Allah, dan tidak mentaati apa yang dikatakan Allah. Apakah percaya kita kepada Kristus sama seperti percayanya setan kepada Allah? Kita percaya bahwa Kristus telah mati dan bangkit bagi kita, bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita, tapi kita tidak mau mengakui bahwa Kristus adalah Tuhan kita, dan kita tidak mau hidup sesuai dengan ajaranNya? Kalau kita perlu duduk, dan kita percaya bahwa sebuah kursi dapat menopang kita, kita akan mengekspresikan kepercayaan kita dengan duduk di kursi tersebut. Kita tidak hanya mengatakan bahwa kita percaya, tapi kita akan langsung mengambil tindakan untuk duduk di kursi tersebut. Kalau kita perlu selamat, dan kita percaya bahwa hanya dalam Yesus kita bisa mendapat keselamatan, apa ekspresi kepercayaan kita kepada Dia? Apakah kita hanya mengatakan bahwa kita percaya, tapi perkataan kita tidak ditindak lanjuti dengan perbuatan kita?
Seperti yang telah kita lihat, banyak sekali hal-hal yang bisa kita pelajari dari greetingsnya Paulus di bagian awal surat ini. Kita belum sempat membahas apa arti “dalam Kristus”, yang juga merupakan sebuah hal penting untuk kita pelajari. Kita bahkan belum sempat membahas isi dari greetingsnya Paulus, yaitu ‘kasih karunia’ (grace) dan ‘damai sejahtera’ (peace). Tapi saya harap, dengan tulisan yang singkat ini mengenai greetingsnya Paulus di awal surat ini, suatu hal yang sering kita lewati begitu saja, renungan ini dapat membangkitkan kerinduan saudara sekalian untuk terus membaca dan menggali kebenaran firman Tuhan, sehingga kita semua dapat terus bertumbuh di dalam Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita semua. Amin.